Facebook  Twitter  Google+ Instagram

Thursday, November 16, 2017

Review “EXPLORE 20 KISAH PERANTAU ILMU”

Source :Google

Buku explore 20 kisah perantau ilmu bercerita 20 kisah pelajar Indonesia  yang sedang menempuh studi di berbagai belahan dunia. Mulai dari Kota yang sangat terkenal  Kairo, New York, Amsterdam, Budapest, Istanbul, Tiongkok, Ankara hingga tempat yang jarang, bahkan baru kita dengar seperti  Kota York dan kota Lublin. Dengan jenjang studi Strata 1 (bachelor) hingga jenjang Ph.D. Perjuangan pelajar Indonesia meraih beasiswa hingga diterima di kampus Luar Negeri  diceritakan sangat apik, penuh inspiratif, solutif, dibumbui pengalaman unik nan menggelak tawa. Kisah heroik ke 20 Pelajar Indonesia berhasil membuat saya “tertampar”. Sebutlah kisah Dinul Zul Akbar “Dari Cleaning Service Hingga Kuliah Hadits” yang berhasil membuat saya nangis sejadi-jadinya membaca kisah perjuangan Lulusan SMA pinggiran ibukota yang berhasil menaklukkan Kota Madinah menempuh studi Hadits dan Studi Islam di University of Madinah. Kisah lain mba Siti Dewi Aisyah dan Suami “Ngapain Perempuan Ambil Master, Kan Sudah Berkeluaga? Yang menggoyahkan prinsip dan pandangan saya terkait “perempuan, kuliah, dan keluarga”. Diceritakan pasangan suami istri ini menempuh kuliah di dua tempat yang berbeda di Turki, kota Istanbul dan Ankara. Sedikit cerita pasangan suami istri ini bahkan rela gantian menjaga anak ketika ada kelas, mba Dewi menyusui anaknya di jam istirahat kelas, hingga pegawai-pegawai kampus yang ikut membantu mengajak bermain hingga menenangkan anak mereka, pasangan serasi ya (Jangan Baper). Selajutnya  Kisah Pemuda yang berhasil mengundang gelak tawa yaitu Muzakki Bashori, mahasiswa jurusan Applied Linguistics-TEFL, University of Groningen, Belanda. Chapter “Saya dan Belanda” menceritakan detil seluk beluk kehidupan di Negeri Van Orange, pengalaman kehilangan sepeda, belanja di toko pakaian yang disangkanya pakaian dewasa ternyata area pakaian anak-anak (Maklum postur tubuh orang Belanda mencapai 184 cm (laki-laki) dan 170 cm (perempuan) sangat berbeda dengan rata-rata postur tubuh orang Indonesia (baca. Seperti mas Muzakki ini J) Tapi pesannya Bersyukur saja karena bukankah Tuhan lebih melihat hati bukan tinggi badan ? (definetly True). Halte yang tertukar, paper yang dikembalikan, sistem perlantaiian di Belanda yang Bingung, kumandang Azan dikelas hingga Mosi “Jangan Menggombal”.  Sedikit pesan dari Mas Muzakki bagi para Jones (Apalagi bukan Jones) untuk tidak “menggobali” para mahasiswa/I Belanda ala-ala, “Ayah kamu tukang sate, ya ? Kok Tahu? Karena kamu telah menusuk hatiku..” alih-alih membuat si dia terpesona, yang mungkin bakalan terjadi adalah terucapnya dua judul lagu Justin Bieber
SORRY,’
WHAT DO YOU MEAN ?
According mas Muzakki daripada menghabiskan waktu untuk gombal menggombal, mending #menjadijomblomulia atau #joblosampaihalal. Insyaallah berkah dunia akhirat katanya.

Well, itu sepenggal beberapa kisah mahasiswa Indonesia dalam buku “explore 20 kisah perantau ilmu” selengkapnya dapatkan di Gr*****a (bukan promosi ya) semoga menginspirasi dan tetap semangat #studyabroad. I’ll see you guys.. 

0 comments:

Post a Comment